This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 11 Januari 2014

Kaleidoskop Status Facebook Tahun 2013 Edisi 2



Es Campur (Kaleidoskop Status Facebook Tahun 2013 Edisi 2)
Oleh: Nurul Hikmah Sofyan (Pemulung Kata)



Pengen jadi ilmuwan kok tidurnya lama?
Semarang, 13 Desember 2013

“Elegan”

Pertanyaan yang elegan adalah bagaimana kabar kuliahnya? sudah sampai bab berapa nulis skripsinya? kapan sidang munaqosah tesisnya? kapan mau mulai pra-penyusunan disertasi?
Bagai gayung yang bersambut, senyum saya terkembang seketika.
Inspired from the class meeting of Pendidikan Luar Sekolah
Semarang, 06 Desember 2013

"Siapkan Calon Judul Skripsi Sedini Mungkin"

Ghalibnya, semester awal masih identik dengan semangat yang masih meletup-letup, masa dimana kita masih bisa memelihara idealisme kepemudaan sebagai agent social of change, masa muda yang belum tersentuh oleh 'pikiran-pikiran level berat' yang bertautan dengan kerasnya kehidupan nanti lantaran soal sandang pangan yang sepenuhnya masih ditanggung orangtua. Sebelum membincangkan soal skripsi, ide tulisan ini saya dapatkan usai menghadiri mata kuliah Karya Tulis Ilmiah yang diampu Bapak M. Rikza Chamami, MSI, beliau memberikan dorongan kepada mahasiswanya untuk mempersiapkan tugas wajib anak kuliah ini sedini mungkin. Mantan aktivis yang bisa menyelesaikan kuliah Strata 1 dalam waktu 3.5 tahun dan memperoleh predikat wisudawan terbaik Jurusan Kependidikan Islam ini mengungkapkan bahwa masalah konvensional yang dihadapi mahasiswa dalam menuntaskan skripsi adalah ketiadaan aksi nyata untuk merampungkan bab demi bab setelah tahap mahasiswa melakukan penelitian, file skripsi hanya didiamkan tersimpan di laptop tanpa berusaha demi sedikit sedikit untuk mulai menulis kembali.
Pun beliau menyayangkan predikat aktivis yang identik baru keluar dari dunia kampus di semester 14 dengan berbagai macam alasan. Bagi saya pribadi, seorang aktivis yang dipandang sebagai lakon terdepan dalam menggaungkan daya kritis tingkat tinggi semestinya bisa menuntaskan skripsi lebih cepat dari mahasiswa akademisi tulen. Ironisnya, realita kebanyakan bertolak belakang dari tujuan ideal pengagungan daya dan sikap kritis. Alangkah baiknya hal ini menjadi refleksi kita bersama mengenai manajemen pengaturan waktu kehidupan masa muda kita, penyakit apa yang sebenarnya menjakiti diri sehingga human error masih saja betah menjadi kawan karib kita. Kembali lagi membincangkan soal skripsi, agar julukan NATO (No Action Talk Only) tak melulu bersarang dalam pribadi kita, adalah urgen dan perlu adanya manifestasi tindakan produktif, dalam hal ini menulis skripsi, apa yang kita dengar, baca, maupun yang kita renungkan untuk betul-betul merealisasikannya dengan memulai tahap persiapan pra-skripsi yakni menyiapakan calon judul skripsi. Berikut kiat-kiat (tugas kesadaran personal) mahasiswa dalam melancarkan proses penulisan skripsi:
1. Kunjungilah perpustakaan bagian rak skripsi.
2. Carilah minimal 5 judul skripsi yang menurut Anda menarik
3. Buatlah 5 judul skripsi dari elaborasi judul skripsi yang Anda catat, atau buat judul baru hasil pemikiran Anda
4. Buatlah folder khusus yang bernamakan SKRIPSI dalam gadget atau laptop Anda, dan mulailah mencicil membuat cover, kata pengantar, lembar pengesahan, daftar isi atau bab-bab ringan lain yang sekiranya bisa dipersiapkan dari sekarang.
Demikian kiat-kiat yang saya dapatkan dari dosen saya, mudah-mudahan bermanfaat dan menuai keberkahan, meminjam kata-kata AA Gym, kurang lebih seperti ini kalimatnya: "Gerakkan diri sendiri, lakukan hal yang kecil, dan mulailah detik ini juga". Se-akademisi atau se-aktivis apapun dirimu, katakan hanya dengan tiga kata " I LOVE SKRIPSI", Selamat berproses kawan-kawan, hebatkan diri Anda sekarang juga, Just do it!
Semarang, 27 November 2013

Aturan-aturan Membaca Karya Imajinatif

1. Jangan mencoba menolak dampak sebuah karya imajinatif terhadap diri kita. Biarkan alur cerita dengan bahasanya yang meliuk-liuk lagi dalam bereaksi (melakukan sesuatu) pada diri kita.
2. Jangan mencari istilah, usulan, dan argumen di dalam karya imajinatif. Karena istilah hanya berlaku pada karangan ilmiah (eksposisi, sains, dll).
3. Jangan mengkritik sebuah karya fiksi dengan menggunakan standar-standar kebenaran dan konsistensi yang berlaku untuk buku-buku sains.
Dari buku "Meraih Kecerdasan, Bagaimana Seharusnya Anda Meraih Manfaat Hebat dari Bacaan" karya Mortimer Adler & Charles Van Doren, pertanyaan yang berputar di kepala saya tempo hari akhirnya terjawab sudah, tidak ada revisi dalam karya fiksi.
Semarang, 15 November 2013

“Tong Sampah”

Pikirku, jika rasa bahagia saja akan membuat keganjalan di hati bila tak diungkapkan pada sesama, apalagi rasa sedih yang tak dibagi, ugh! memendam itu memang sakit sekali rasanya. Kesimpulan kasarnya: curhat itu perlu, khususnya bagi perempuan yang cenderung melebar-lebarkan sesuatu yang sebenarnya sederhana, detail. Aku jadi teringat sebuah quote yang kali waktu aku dapatkan dari hasil pemburuan kata-kata di Toko Buku,, he,,he,, Begini bunyinya: Adakalanya orang lain perlu hadir pada saat kita membuat sebuah pengakuan". (Erwin W. Lutzer). Oke gals, berbagilah jika memang hal itu mengurangi bebanmu, kurasa berbagi kisah menjadikan kita tahu dan mengerti bahwa kita tidak sendiri merasakan manis pahitnya kehidupan, I am all ears, gals! Aku di sini.
Semarang, 09 November 2013

“Scribo Ergo Sum”

Ungkap Dee dalam bukunya yang bertajuk "Filosofi Kopi", setiap jenjang manusia memiliki dunianya sendiri, apabila tidak direkam hitam di atas putih, ia akan dilupakan karena kacamata tak lagi sama apabila usia bertambah. Untuk itu, mari kita bersama-sama mendokumentasikan pengalaman-pengalaman menarik lagi bermanfaat agar jejak perjalanan kita dapat terbaca oleh generasi sekarang dan selanjutnya, termasuk anak cucu kita nanti. Salam Scribo Ergo Sum (Aku Menulis, maka Aku Ada).
Semarang, 31 Oktober 2013

 “Lemah Demokrasi”

Rasanya berpikir kritis semakin terasing saja dari diskusi interaktif kelas. Tanda-tanda lemahnya demokrasi di kalangan mahasiswa. Salah satu penyebab utamanya: warisan budaya tradisional Indonesia. Solusi alternatifnya: meminimalisir kultur ewuh pakewuh. — Description: https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/yO/r/m4LtK_PmtP2.pngmembaca Filsafat Pendidikan Bahasa dan Pendidikan karya Prof. Dr. A. Chaedar Alwasilah.
Semarang, 25 Oktober 2013

“Siasat Hunting Buku”

Suatu ketika Bapak pernah mengeluhkan buku-buku yang saya beli sewaktu duduk di bangku MA, lantaran buku-buku itu hanya terpajang rapi di rak dan sudah jarang saya sentuh lagi ketika berganti status menjadi mahasiswa. Kata beliau, koleksi buku saya yang kebanyakan buku praktis, kumcer dan buku bergenre motivasi itu tak ada sangkut pautnya dengan materi pelajaran. Sejak saat itu saya mulai sadar, ternyata ada sedikit kesalahan yang pernah saya buat dalam proyek 'pengoleksian buku'. Saran saya, sebaiknya alokasikan anggaran bulananmu untuk mengutamakan membeli buku teoritis yang berkaitan dengan materi kuliah ketimbang membeli buku praktis yang kemungkinan porsi terpakainya lebih sedikit. Suwer deh, punya buku diktat kuliah sendiri itu rasanya lebih tentram dan merdeka daripada musti pinjam di perpustakaan kampus yang dibatasi waktu peminjamannya, belum lagi kalau telat atau lupa ngembaliin buku, wah alamat kena denda tuh, serasa nabung di bank tapi kagak bisa diambil, ya kalau dendanya sedikit, kalau nguras kantongnya banyak kan kerasa banget tuh, mendingan uangnya buat makan siang di kantin. hhe,,
Catatan Anak Kampus
Semarang, 17 Oktober 2013

“Kekaguman pada Sastrawan”

Saya paling suka mendengar penuturan Dosen B. Indonesia saya ketika menggambarkan latar belakang sosial mantan kekasihnya dulu yang cukup berada, " Baju yang ia pakai pada tanggal 1 belum ia pakai lagi pada tanggal 30." Pelan-pelan beliau mundur dan mengurungkan niat untuk melamar kekasihnya itu lantaran kesenjangan latar belakang sosial yang tidak sepadan. Pesan beliau: "Janganlah kau terlalu menampakkan kekayaan orang tuamu, bisa jadi ia yang sebenarnya ingin meminangmu menjadi enggan karena perasaan ketidaksanggupannya untuk menafkahi biaya hidupmu kelak. Selamat menikmati dinginnya malam di kotamu masing-masing kawan!
Semarang, 16 Oktober 2013

“Menikmati Ketidakpopuleran”

Mencoba menikmati ketidakpopuleran. Ah! lebih tepatnya menghibur diri untuk meredam tekanan batin. Kataku, aku siap dilupakan orang, siapapun itu. Siap akan ketidakberanggapan mereka akan aku.
Semarang, 24 September 2013

“Bersekongkol dengan Waktu”

Lusa, aku akan bersekongkol dengan waktu untuk mencuri sepersekian jam saat-saat kesenanganku menunda-menunda pekerjaan. #SisiLain
Semarang, 23 September 2013



Kaleidoskop Status Facebook Tahun 2013



#Ketika Hati Bicara (Kaleidoskop Status Facebook Tahun 2013 Edisi 1)
Oleh: Pemulung Kata


"Pengagum Titel"

Bukan sekadar pengagum titel ilmuwan belaka, tapi soal ini, kapasitas keilmuan, pengalaman, kedewasaan dan pengertian. Betapa beruntungnya ketika calon sarjana ini bisa belajar dan bertukar pikiran dengan Anda. Betapa berkah waktu saya ketika bisa mendapatkan kesempatan berharga untuk bertatap muka dalam majelis ilmu Anda. Sosok yang haus akan ilmu sekaligus lebih dulu mencicipi manis-pahitnya menimba ilmu di negeri orang. Kapan saya bisa bertanya kapanpun tanpa merasa sungkan?
Salam ta'dzim dari saya, Calon Sarjana.
Semarang, 26 Desember 2013

"Jauh"

Bagaimana mungkin air mata meluruh teruntuk rupa yang tak pernah sekalipun kusua? Oh romantis nian skenario Tuhan.
Lagi, kuberi tahu ungkapan kalbu, seberapa jauh rasaku menjauh, tetap saja ia selalu berpulang pada kejauhan. Pertanda apa gerangan? pasti kau jua tahu apa jawabnya. Katakan saja dalam hati. Mudah-mudahan Allah meridhai kata hati, perempuan ini. Istajib Ya Rabb.
Semarang, 19 Desember 2013

“Selamat Datang Hujan”
Sempurna! Rupanya musim tengah berpihak pada pujangga. Ya, musim penghujan, musim yang setia dinanti-nanti oleh para pemungut rasa sekaligus pemulung kata. Suasana dramatis musim hujan layaknya primadona pemoles bait-bait puisi anak manusia. Hujan turun sore ini. Asyik. Saatnya menikmati rinai air hujan. Dingin. Siapkan secangkir kopi hangat dengan taburan latte berbentuk daun di atas busa-busa lembutnya. Putar kidung-kidung bermutu penuh filosofi. Ditambah sentuhan terakhir dengan mengundang kegalauan. Datanglah wahai kegalauan! Kami merindukan perasaan, yang ianya lambut laun menggeser tahta logika yang lebih dulu dapat mengambil hati empunya raga, para pujangga. Lalu, menyiapkan diri dan hati untuk memungut berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar inspirasi di dunia abstrak. Duduk di samping jendela, lalu memandangi titik-titik air di kaca jendela yang terkadang berebut menjatuhkan diri ke tanah basah yang tergenang air. Inilah waktu yang pas untuk bermain dengan bahasa kalbu, kata-kata. Akhirnya, terciptalah sajak, puisi dan prosa yang lebih bernyawa. Terima kasih Gusti Allah.
Semarang, 03 Desember 2013

“Akulah Orang Pertama Pendukung Cita-cita Sosialmu”
Harapan yang akan kuupayakan, ini, menjadi orang pertama yang mendukung cita-cita sosialmu, pasti, suatu saat nanti. Istajib Ya Rabb.
Semarang, 30 November 2013

“Mengerti”
Dan aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakan bahwa aku mengerti. Mengerti akan segala keterbatasanmu sebagai manusia.
Semarang, 30 November 2013
*Nostalgia Asrama Bonoloyo

Ijinkan aku mengawali postingan iseng ini dengan tawa terkekeh-kekeh, wakakakakakakakakakaka. Hehe. Masih ingat ketika naik angkot kita cas cis cus ngomong ngarab plus nginggris dengan lahjah Jawa sedangkan penumpang lain tak paham apa yang kita bicarakan? barangkali ada yang sampai terheran-heran dan mlongo mendengar bahasa yang seenaknya kita modifikasi menjadi bahasa Slang ala Mapeka, ck,,ck,,. Rasanya merdeka ya, kita seperti agen rahasia yang berkomunikasi dengan bahasa alien, batin orang-orang seangkot, barangkali. Tanpa takut alur pembicaraan kita diketahui orang lain, bebas lepas plus asyik bukan main kita cuap-cuap ngalor-ngidul, apalagi kalau pas satu sama lain nanya "berapa ongkos naik angkotnya?" lalu salah satu atau salah dua dari kita mengumpat,," eh gholin tauk", "na'am ea," yang lain menimpali. hehe. Tapi di sisi lain, kita sok yes juga ya, sok pake bahasa di luar kawasan wajib berbahasa, ealah malah suka nglanggar kagak pake kedua bahasa itu di kawasan bilingual zone asrama. Selidik punya selidik, sebenarnya ada apa sih dengan kita, anak asrama?
*Teruntuk bagi yang pernah, sedang, dan mau menjelma menjadi anak asrama Bonoloyo, Sekolah Kehidupan. This story is taken from one of the sequences of life when writer became a student of Programmed Islamic Sciences of State Islamic Senior High School of Surakarta Semarang, 22 November 2013


“Berutang Rasa”
Mudah-mudahan 3 sampai 4 tahun lagi, saya dapat menemukan cara yang tepat lagi bijak bagaimana saya harus berterimakasih atas keberanggapan anda pada saya selama ini. Barangkali tindakan yang tak bernama ini aneh dan konyol, tapi saya merasa perlu untuk melakukannya, atas nama penghargaan hidup yang lebih berkualitas, dinamis, dan sederhana.
Semarang, 02 November 2013
“Sendiri”
Secangkir kopi hangat yang masih sendiri, perfecto. — terhibur .
 Semarang, 25 Oktober 2013
“Shadowman”
Tidakkah kau tahu wahai lelaki bayangan? Sajak-sajak yang kutulis tempo hari itu terlahir berkat sapamu. Kuberi tahu satu lagi, ada cinta yang nyata, tapi bagaimana jikalau lakonnya hanya sebatas di dunia yang diciptakan oleh imajinasiku sendiri? Aku kawanku, #shadowmanku ini benar-benar super duper shadowman,, jauh dan semakin jauh dari kenyataan. Oh,, tidak, sepertinya aku harus cepat-cepat bangkit dari negeri mimpi untuk menyelamatkan diri. O God, wake me up when October-end!
Semarang, 19 Oktober 2013

“Penghayatan”
Matahari masih belum menampakkan senyumnya, kukerjakan rutinitas pagi lebih cepat dari biasanya. Membuatkan kopi hangat untuk Bapak, tanpa penghayatan.
#Terburu-buru
Semarang, 29 September 2013

“Pengantar Kata-Kata”
Terima kasih telah mengantarku menjemput kata-kata.
Semarang, 18 September 2013



“Bersyukur lantaran Jatuh Hati”
Bagi kau yang suka menulis sajak, bersyukurlah bisa mencintai seseorang, karena berkat kehadirannya seolah-olah sajak-sajak yang kau tulis akan terasa lebih hidup dan bernyawa. Percayalah!
Semarang, 05 September 2013

 “Sibuk”
Anda sibuk, saya sok sibuk. Anda kuliah, saya pun kuliah. Mari sama2 menyibukkan diri dengan hal2 yang positif di dunia kita masing2. Kini saatnya kita berdiam diri, paling tidak tuliskan status anda agar saya tahu kalau anda itu masih hidup.
Semarang, 04 September 2013

Senin, 30 Desember 2013

Lifestyle




Terjebak dalam Gelombang Informasi; Stagnasi Pembudayaan Manusia
Oleh: Nurul Hikmah Sofyan


Abad ke-21 merupakan abad elektronik di mana kebanyakan dari kita telah menjelma menjadi manusia informasi. Kemanapun kita pergi, gadget selalu tak pernah absen dari genggaman, mulai dari telepon genggam, komputer jinjing, tablet PC serta perangkat-perangkat elektronik lainnya yang merupakan bagian dari produk teknologi berbasis komponen-komponen mutakhir masa kini. Menurut Alfathri Adlin dalam buku “Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia”, menyebutkan bahwa “Pencapaian teknologi sebagaimana yang ada saat ini sebenarnya telah menjalani suatu evolusi yang sangat panjang. Teknologi merupakan akumulasi dari pembelajaran manusia pada masa sebelumnya yang terus dicoba untuk disempurnakan. Perkembangan percepatan teknologi tersebut secara umum dibagi ke dalam beberapa fase yaitu, fase penggunaan otot (  1.000.000 tahun yang lalu, serta menghasilkan alat bantu berupa batu, palu, tombak, busur, dan lain-lain); fase penggunaan binatang, budak, air, angin (  3000 SM hingga 1700 M, serta menghasilkan alat pembajak, gerobak, kincir, perahu layar, huruf dan percetakan); fase penggunaan uap, pembakaran, listrik, atau Revolusi Industri (  1700 M hingga 1940 M, serta menghasilkan listrik, mesin uap atau bakar, pesawat terbang, foto, dan film); fase penggunaan nuklir, elektronik, matahari (  1940-an M hingga 2000 M, serta menghasilkan pesawat ruang angkasa, televisi, nuklir, komputer); fase teknologi informasi yang diperkirakan akan semakin berkembang pada abad ke-21 (misalnya tampak pada gejala cyberspace yang dengan sangat cepat mengimbas kepada berbagai aspek kehidupan manusia lainnya).
Terjebak Gelombang Informasi
Dalam pada itu, Alfin Toffler, sebagaimana yang dikemukakan oleh Jalaluddin Rahmat, masyarakat terbagi menjadi tiga bagian yakni masyarakat pertanian (agricultural society), masyarakat industri (industrial society), masyarakat informasi (informatics  society). Saat ini, kita memasuki masa yang disebut oleh futurolog Amerika ini sebagai masa masyarakat informasi. Tentu saja suguhan banyaknya informasi akan membuat pola hidup manusia juga kian berubah. Telah terjadi budaya baru yang disebut Toffler industriality. Dalam budaya yang baru, yang memerintah bukan raja atau kepala suku, tetapi teknologi, mengatur hidup dan mati manusia, sejak makan, minum, sampai sehat dan sekarat. Disadari atau tidak hidup kita tengah diperbudak oleh benda.
Terjebaknya manusia dalam gelombang informasi, menjadi hambatan tersendiri pembudayaan manusia. Maksud dari pembudayaan dalam konteks ini adalah proses, perbuatan, dan cara memajukan manusia melalui teknologi. Nomina pembudayaan memiliki makna inheren ‘lebih aktif’ dan dinamis daripada nomina kebudayaan, yang memiliki makna keadaan ‘apa adanya’ dan terdengar kurang dinamis (Alwasilah: 2010). Terjadinya stagnasi pembudayaan manusia di sini lebih inheren ketika teknologi berada di tangan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap. Penggunaan iptek modern yang demikian masih lebih banyak dikendalikan oleh orang-orang yang secara moral kurang dapat dipertanggungjawabkan. Sikap hidup yang mengutamakan materi (materialistik), memperturutkan kesenangan dan kelezatan syahwat (hedonistik), ingin menguasai aspek kehidupan (totaliteristik), hanya percaya pada rumus-rumus pengetahuan empiris saja, serta paham hidup positivistis yang bertumpu pada kemampuan akal pikiran manusia tampak lebih menguasai manusia yang memegang ilmu pengetahuan dan teknologi (Nata: 2012). Intinya, sisi manfaat teknologi tergantung pada  pelaku yang memegangnya.
Sisi Ambiguitas Teknologi
Menurut M. Abdullah Badri dalam bukunya yang bertajuk “Kritik Tanpa Solusi “, menyebutkan bahwa teknologi mempunyai semacam ambiguitas. Satu sisi, teknologi mempermudah mobilisasi manusia. Di sisi lain, teknologi mencerabut subjektivitas manusia sebagai unit kebudayaan utuh yang membentuk nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi dalam antropologi jelas tidak dapat dipisahkan dari secara dikotomis dari humanitas. Argumen ini didukung oleh apa yang dikemukakan oleh sosiolog Perancis, Jacques Ellul, yang mengatakan bahwa kemajuan teknologi akan memberi pengaruh sebagai berikut: pertama, semua kemajuan teknologi menuntut pengorbanan, yakni dari satu sisi teknologi memberi nilai tambah, tapi di sisi lain dapat mengurangi, kedua, efek negatif teknologi tidak dapat dipisahkan dari efek positifnya. Teknologi tidak pernah netral. Efek negatif dan positif terjadi serentak dan tidak dapat dipisahkan, ketiga, semua kemajuan teknologi lebih banyak menimbulkan masalah ketimbang memecahkannya.”
Menurut Jalaluddin Rahmat, teknologi informasi dapat mempengaruhi kita lewat dua cara: kehadirannya (physical presence) dan isinya (content). Kehadiran produk-produk teknologi canggih bukan hanya meningkatkan status sosial, tetapi juga membentuk jaringan interaksi sosial yang baru. Satu kekhawatiran Jalaluddin Rhamat adalah efek kehadiran teknologi di kalangan pemuda yang menggunakan teknologi sebagai ajang rekreasi dan bukan edukasi. Kegiatan-kegiatan produktif seperti belajar, sosialisasi, pendalaman nilai-nilai tradisional yang luhur akan dialihkan menjadi kegiatan penggunaan teknologi informasi yang rekreatif.
Menerima tanpa Mengolah
Dampak negatif dari kecanduan teknologi ini diperparah dengan penerimaan informasi dari cyberspace tanpa tindakan pengolahan data. Seolah-olah tindak tanduk kita justru didekte oleh sampah-sampah informasi dunia maya. Pandangan umum bahwa semakin banyak manusia memiliki informasi maka semakin tinggi pula status sosialnya , membuat masyarakat berlomba-lomba mencari harta karun informasi hingga tanpa sadar menimbunnya di dalam otak tanpa filter yang proaktif sehingga menyebabkan informasi itu hanya mandek pada tataran mengetahui tanpa menganalisis. Walhasil, informasi-informasi yang tersimpan dalam pikiran itu menumpuk lalu membusuk, menghilang seiring kehadiran informasi yang datang kemudian.
Potret semacam ini justru mendistorsi hakikat teknologi yang pada niat awalnya diciptakan sebagai sarana memudahkan kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Benar jikalau dilihat dari tatanan praktis, kita terkesan dimudahkan dan dibuat nyaman dengan tersedianya gudang informasi yang diunggah melalui teknologi canggih, akan tetapi disadari atau tidak hal ini justru membuat hidup kita tidak nyaman karena stagnasi kehidupan, seolah-olah manusia nyaman di zona nyaman yang sebenarnya malah membunuhnya nyawa hidup itu sendiri. Singkatnya, hari demi hari hidup jauh dari perubahan yang berarti. Kita akan disibukkan berinteraksi dengan benda mati daripada bertatap muka dengan orang-orang di dunia nyata. Manusia akan mengalami keadaan gagap interaksi sosial, di mana gaya hidup cenderung menjadi individualis.
Kediaman masyarakat kita tanpa memilah informasi ini menunjukkan lemahnya daya kritis di kalangan kita. Memang tak sepenuhnya salah ketika mengambil informasi dari dunia maya, tapi alangkah lebih baiknya informasi dalam bentuk cyber itu tak ditelan mentah-mentah. Intinya, jangan terlalu berkiblat padanya.
Sebagaiman yang diungkapkan oleh Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA dalam buku “Akhlak Tasawuf”, sikap bijak yang semestinya diambil oleh umat Islam dalam menghadapi zaman millenium ini adalah dengan mengambil sikap pertengahan, yakni suatu sikap yang di satu sisi menerima dan memanfaatkan kemajuan iptek, sedangkan pada sisi lain kita berusaha menjaga agar iptek tidak disalahgunakan. Hal ini dimaksudkan agar sisi keberkahan teknologi dapat memberikan dampak positif guna pembudayaan manusia dalam mobilitas horizontal maupun vertikal, bukan justru terjebak pada kungkungan benda mati yang menghalangi diri untuk menjadi manusia yang berbudaya. Wallahu a’lam. (The Winner of Writing Contest on The 8th Anniversary of  of FUPK 2013 IAIN Walisongo Semarang)