This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 24 September 2013

Sajak Kata-kata




Pemulung Kata

Aku ini manusia yang miskin kata-kata
Maka ikhtiarku, aku akan menjadi pemulung kata-kata
Karena aku ingin menjelma menjadi pujangga

Semarang, 08 September 2013
 Nurul Hikmah Sofyan

Review Buku Cerita Azra





Cerita Azra; Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra

Judul Buku      : Cerita Azra; Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra
Penulis                        : Andina Dwifatma
Penerbit           : Erlangga
Cetakan           : 2011
Tebal               : x+ 248 halaman
Resensator       : Nurul Hikmah Sofyan
Azyumardi Azra, siapa sih yang tidak mengenal pemikir sekaligus praktisi ini. Tentu sudah familiar di telinga kita nama cendekiawan Muslim Indonesia yang populis sampai kancah internasional ini. Buku biografi ini mengisahkan ihwal seorang Azra kecil yang hidup dengan 5 saudaranya, kisahnya menjadi aktivis tulen kampus hingga perjalanan studinya di Universitas Columbia. Pun tak sampai di situ saja, salah prestasi tertingi yang beliau capai adalah sepak terjang Azra dalam konversi IAIN Syarif Hidayatullah menjadi UIN, yang ianya merupakan institut agama Islam pertama yang menobatkan dirinya sebagai universitas.
Azyumardi Azra adalah sosok publik figur yang berwawasan luas yang begitu open-minded akan pemikiran-pemikiran di luar dirinya. Walau ia pernah menempuh post-graduate di luar negeri, Azra tak kehilangan kekhasannya sebagai orang asli Nusantara. Ia pun mendedikasikan dirinya dengan banyak menulis ihwal pemikirannya dalam menyelesaikan problematika bangsa baik dalam ranah pendidikan, politik, hingga sosial-budaya. Bahkan kiprah yang tidak hanya berkutat di dunia pendidikan, membuat sosok Azra semakin dikenal di mata dunia. Bahkan yang lebih menakjubkan lagi, ia dianugerahi gelar Commander of The British Empire (CBE) dari Ratu Inggris. Gelar yang ia raih itupun menempati posisi satu tingkat di bawah gelar yang diraih oleh David Beckham yang hanya bergelar Officer of The British Empire, dan Azra adalah orang Asia khususnya warga yang berkebangsaan Indonesia pertama yang meraih gelar bergengsi tersebut.
Tak sampai di situ saja, berbagai partai politi juga sempat menawarkan posisi ke Azyumardi Azra, namun ia memilih untuk menjadi ikan yang berada di luar akuarium, sebagaimana Azra menyebut dirinya sebagai “I am a solitary intellectual”, tidak lain tidak bukan agar dirinya tetap bebas menuangkan pemikirannya tanpa terikat dengan kelompok tertentu. Hal itupun membuat Azra banyak diburu oleh wartawan untuk dimintai menulis artikel atau sekadar tanggapan perihal masalah politik maupun sosial kemasyarakatan.
Buku terbitan Erlangga ini merupakan biografi Azyumardi Azra. Isinya terdiri dari senarai sepak terjang perjalanan hidup dan karier Azyumardi  dimulai dari babak cerita di kampung Minang sampai perjalanan kariernya sampai menjadi ‘orang’. Alur yang dikemas penulis  selayaknya sebuah cerita, membuat para pembaca dapat ikut merasakan liuk-liuk kisah Azyumarda yang cukup dramatis  dan bersahaja itu.
Bagi pembaca budiman yang ingin menyelami lebih jauh ihwal pemikiran Azyumardi Azra, saya rasa buku ini tepat menjadi koleksi wajib perpusatakaan anda.
Selamat berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Azra dan kisah hidupnya yang begitu menginspirasi.





Sajak Penghuni Alam




Kesedihan di Pengujung Kemarau
Oleh: Nurul Hikmah Sofyan

Aku adalah insan penghuni alam
Menunggu datangnya hujan di penghujung musim kemarau
Di antara sibakan siang dan malam
Merindukan derai gerimis bahkan derasnya tetesan air hujan
Layaknya rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi
Melepaskan segala kebimbangan
Meredam segenap emosi di masa lalu
            Aku, dalam ingatan kesunyian
            Mulai beranjak dari kesedihan di penghujung kemarau
            Duduk di samping jendela bisu dalam dekapan perasaan yang lemah
            Berkisah pada hujan tentang kisah lama yang mengharu-biru
            Tentang semua luka yang pernah menoreh di hati
Sampai-sampai kutatap lekat-lekat derasnya hujan yang jatuh silih berganti
Seketika itu pula wajahku menjadi sendu
Mengadu pada Sang Pemilik Alam
Duhai Ilahi.” Jangan tinggalkan aku sendirian.”Pintaku
Hingga air telah mengalir ke peraduannya
Hujan telah reda
Menghanyutkan segenap emosi dan dedar amarah yang tadinya mendera
            Serasa kesedihan pilu telah hilang begitu sja
            Lalu, aku berharap lagi pada senyuman pelangi di ujung lara
            Hibur aku di penghujung sangkal
            Mengapa?
            Karena aku masih di sini,
            dalam sisi lain dari kematian
            Hening. Tanpa jeda.


Asrama Putri, 23.34 WIB
Surakarta, 07 Desember 2011
           
           

Refleksi Pendidikan




Pendidikan sebagai Makanan Pokok Manusia
Oleh: Nurul Hikmah Sofyan

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan mutlak dalam kehidupan manusia, hal ini dikarenakan pendidikan merupakan ujung tombak upaya untuk humenisering (memanusiakan manusia). Sebagaimana meminjam pernyataan negeri yang pertama kali mengakui kedaulatan Republik Indonesia, Mesir, mengatakan bahwa “Pendidikan adalah hak setiap warga negara tanpa terkecuali seperti air dan udara”. Menilik pernyataan tersebut, sudah bisa dipastikan bahwa pentingnya pendidikan bagi suatu bangsa sudah menjadi kesepakatan bersama negara-negara di dunia, termasuk di dalamnya Indonesia.
Dalam penerapan kegiatan pendidikan tentu setiap negara mempunyai sistem yang berbeda-beda, dimana hal ini direfleksikan dalam bentuk penerapan kurikuluk yang dirancang oleh pemerintah guna memajukan sekaligus mencerdaskan suatu bangsa. Letak perbedaan rancangan kurikulum dan sistem aplikasinya pada tiap-tiap negara di seluruh belahan dunia adalah di antara disesuaikan oleh telaah kondisi historis, sosial-budaya, kondisi lingkungan di dalam kelas maupun di luar kelas, dan lain sebagainya.
Betapa tak semudah membalikkan telapak tangan, para penyusun kurikulum harus mempelajari dan memahami segala aspek kehidupan suatu masyarakat untuk merancang kurikulum yang dapat mengubah manusia menjadi manusia yang paripurna (educated and civilized people).
Ironisnya, sistem pemerataan kurikulum di Indonesia justru menafikkan bahwa keadaan sosio-budaya dan geografis di Tanah air itu beraneka ragam. Seakan-akan rancangan kurikulum itu hanya diukur dari sekolah-sekolah yang terletak di kota, yang sudah  dihiasai dengan teknologi modern, kadang kala pemerintah mengabaikan hal-hal sepele yang sebenarnya urgen guna rancangan kurikulum. Lihatlah sekolah-sekolah yang letaknya jauh dari ibu kota, luar Jawa, kebanyakan kurikulum yang digunakan oleh sekolah-sekolah tersebut masih kurikulum ‘jaman dulu’, dalam artian tidak menggunakan kurikulum terbaru yang dicanangkan oleh pemerintah. Selain itu, banyak buku-buku diktat yang masih menggunakan kurikulum CBSA, di sisi kanan dan kiri atas papan tulis pun masih terpampang foto presiden Susilo dan wakil presiden Jusuf Kalla.
Tentunya hal ini menyangkut kesenjangan kondisi geografis dan sosio-budaya yang begitu kontras antara sekolah yang letaknya di kota dan sekolah yang letaknya di pelosok-pelosok negeri. Minimnya sosialisasi ihwal perombakan kurikulum juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kesenjangan yang bisa dibilang cukup jauh ini.
Hemat penulis, inilah saatnya pemerintah perlu merancang kurikulum yang berkarakter namun juga fleksibel dapat dikembangkan oleh sekolah masing-masing yang tentunya juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi sosial budaya suatu masyarakat. Lantaran kurikulum merupakan alat untuk memenuhi makanan pokok manusia (pendidikan) guna tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri.