This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 13 Maret 2015

Refleksi Kuliah Perkembangan Pemikiran Islam (1)



Sai sebagai Simbol Keseimbangan Jiwa
Siapa tak kenal bukit Shofa dan Marwa. Dua bukit sebagai saksi bisu pencarian air zam-zam oleh Siti Hajar untuk minum anaknya, Nabi Ismail. Kedua tempat itu bukan semata nama tempat tanpa mengandung nilai yang filosofis, melainkan sebagai simbol pencapaian keseimbangan jiwa manusia sebagaimana tergambar pada salah satu implementasi praktik ritual ibadah haji maupun umrah yakni Sai.
Shofa itu jiwa yang putih, bersih dan jernih Sedangkan arti Marwa adalah martabat yang ideal, insan kamil. Shofa sebagai manifestasi dari sikap tawadlu’ manusia (posisi terendah). Sedangkan Marwa sebagai makam tertinggi manusia (manusia yang berkarakter). Guna membentuk keseimbangan jiwa, manusia musti mondar-mandir secara berkala dari kedua tanda tersebut. Jika sudah mencapai Shofa maka beranjaklah ke tingkat Marwa dan apabila sudah sampai Marwa maka berupayalah untuk kembali lagi ke Shofa dan begitu pun seterusnya.
Apa perasaan kita ketika melihat kawan sekelas terlalu ambisius dalam meraih prestasi sedangkan di satu sisi kawan-kawan sekelas yang lain berkemampuan di bawah rata-rata?, bisa dipastikan akan timbul semacam rasa jengkel pada orang tersebut. Bukan jengkel karena semangatnya belajarnya, tapi karena sikapnya yang melulu berlari kencang tanpa melihat dan memperlambat larinya (membantu kawan-kawan satu kelas yang berkemampuan di bawah rata-rata). Sungguh sikap tersebut akan menimbulkan sifat keakuan yang akut jika tak dibarengi dengan sikap rendah hati.

Manusia Hidup dalam Opini
Mustahil Allah akan mendzalimi hamba-Nya. Manusia sendirilah yang menciptakan penghayatan dalam hidupnya. Opini personal manusialah yang menentukan hidupnya akan berbahagia atau bersusah-susah. Maka dari itu, kerap terdengar ada orang cukup kaya tapi masih merasa susah karena ia belum merasa cukup akan hartanya yang dimiliknya. Sedangkan di sisi lain, cukup banyak keluarga yang tetap hidup dalam kepapaan – meski telah berikhtiar untuk bekerja keras - namun merasa bahagia lantaran sifat nrimo ing pandum-nya.
Kerelaan adalah kunci menciptakan kebahagian. Menerima keadaan yang digariskan pada kita adalah awal dari kebahagiaan. Sebagaimana salah satu syarat lahir keberhasilan transaksi jual beli adalah  adanya keridhaan antara penjual dan pembeli. Sebagaimana pula kebahagiaan anak akan paripurna jika kedua orang tua meridhai. Ridha yang mengundang ridha Allah.
Hemat penulis, karena hidup manusia dibentuk oleh sebuah opini, maka beropinilah sebaik mungkin (positive thinking) agar kebahagiaan hidup mudah tergapai.  Mari berucap: “Tiada satu manusia pun yang akan membuat hidup kita sengsara kecuali kita sendiri yang mengijinkannya.” Wallahu a’lam bishshowab.

Kamis, 12 Februari 2015

Artikel



Rekonstruksi Ontologi Tradisi Intelektual Islam
oleh:  Nurul Hikmah Sofyan


            Tulisan ini berangkat dari kegelisahan dilematis penulis yang mengendap semenjak mengikuti salah satu mata kuliah di FITK UIN Walisongo Semarang. Ada semacam protes atas penyajian materi oleh salah seorang dosen yang justru hampir seluruh pembahasan mata kuliah agama diambil dari literatur berperspektif Barat. Sudah sewajarnya, mahasiswa yang dituntut dan dibekali daya intelektual-kritis setidaknya mempertanyakan ke mana pembahasan materi berperspektif Islam sehingga timbul akibat logis yakni disorientasi dilematis antara menerima materi kuliah berperspektif Barat atau menolaknya. Sejauh pemahaman mahasiswa di wilayah Islam sendiri, penolakan ini disebabkan oleh adanya beberapa titik pembahasan materi di luar Islam yang tidak sesuai dengan kondisi dan pemahaman internal tradisi intelektual Islam. Bukan semata sebagai bentuk apologi, namun lebih kepada kemestian menggali pemahaman Islam dari akar Islam sendiri.
            Disorientasi ini semakin menjadi-jadi dengan adanya bukti realita praksis ketika para sarjana Muslim yang dalam upayanya mengembangkan dan memecahkan masalah keilmuan menggunakan teori murni Barat sebagaimana hemat Sachiko Murata dalam karyanya, The Tao of Islam, dikatakan bahwa sejatinya teori Barat merupakan antipati terhadap tradisi intelektual Islam. Sachiko Murata memiliki sebuah keyakinan dalam mencermati realita ini sebagai ‘ketimpangan’ yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk memahami prinsip-prinsip peradaban asing. Jika pendekatan dan solusi Barat lazim digunakan masyarakat Islam sementara teori murni Barat bersifat antipati terhadap teori murni Islam – misal, antipatinya terhadap prinsip-prinsip hubungan gender yang dibangun berdasarkan tradisi intelektual Islam (Islam tradisional) – hal ini sama artinya dengan mengatakan bahwa saran-saran Barat berkenaan dengan reformasi Islam akan melibatkan perubahan prinsip-prinsip yang mendasari terbentuknya Islam. Islam harus “dibawa masuk ke dalam abad kedua puluh.”
            Murata juga memaparkan titik kelemahan pemikiran Barat yakni berpikir either/or (satu dari dua hal). Senyatanya, orang-orang Barat telah terdidik sejak dini untuk berpikir dikotomis, ciri berpikir yang terkesan terkotakk-kotakkan dan memandang persoalan dari sudut pandang tunggal. Dalam konteks budaya misalnya, berdasarkan penuturan Clifford Geetz, tradisi Barat memiliki pandangan lumrah ihwal dikotomi besar dalam membedakan antara kesenian “tinggi” dan “rendah”. Oleh dari itu, ketika menelaah aspek-aspek estetik di sebuah masyarakat Asia, mereka pun mengambil salah satu versi dikotomi besar tersebut. Kadangkala dikotomi besar tersebut dilakukan atas alasan-alasan objektivitas dan ketepatan ilmiah yang dinyatakan dalam “Tradisi Besar” dan “Tradisi Kecil”.
            Karakteristik mainstream peradaban modern yang dapat kita saksikan saat ini ialah bahwa manusia satu dengan lainnya sebagai entitas ego yang saling berkompetisi, bukan saling belajar dan melengkapi. Ada semacam relasi subjek-objek yang memandang satu lebih superior di atas lain yang inferior. Satu hal yang menyebabkan stagnasi perkembangan ilmu pengetahuan Islam adalah adanya pikiran dikotomis-disparatis, satu diskursus keilmuan dan persolaan pelik di dunia akademisi yang tak berkesudahan untuk diperbincangkan dan diperdebatkan. Realita kontemporer ini bisa kita saksikan pada ironisme-historis pada kemandegan perkembangan keilmuan Islam masa lalu yang bercirikan memisahkan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu yang dianggap ‘profan’ dan peristiwa klimaks ditandai dengan runtuhnya Tiga Kerajaan Besar Islam (Turki Usmani, Safawi, dan Mughal). Entah disadari atau tidak, ternyata alam bawah sadar masyarakat Muslim, khususnya di lingkup akademisi, telah terkontruksi oleh pemikiran dikotomis khas Barat. Argumen di atas didukung oleh pernyataan Zainul Milal Bizawie yang mengatakan bahwa sifat keilmuan Barat itu hegemonik dan otoriter. Semacam ada dorongan maskulin untuk menguasai dunia secara liar dan beringas dan anggapan “diri” lebih superior dalam mendekati masyarakat-masyarakat non-Barat, demikian pemaparan Sachiko Murata, seorang Profesor Studi-Studi Agama yang memusatkan perhatiannya pada tradisi Timur Jauh dan Islam. Dan lebih ironis lagi, kemungkinan besar asumsi yang gencar digaungkan oleh masyarakat Barat ini juga diamini oleh kita, masyarakat Timur, yang telah terjajah mentalnya cukup lama oleh mereka. Keadaan inilah yang menjadi pendorong agar kita kembali membangun kepercayaan diri, menggali dan mengembangkan tradisi intelektual Islam berbasis pondasi Islam murni.
            Hemat penulis, supaya pengembangan tradisi intelektual Islam tidak terkesan kompulsif-pragmatis dengan mencari dalih atau jalan keluar dari teori murni Barat atas problematika dinamis yang muncul di wilayah Islam sendiri, maka ada baiknya kita berpikir ke dalam dan mencari solusi dari teori-teori berjiwa nilai-nilai Islam. Hal ini disebabkan oleh aspek ontologis Barat yang sangat beroposisi dengan aspek ontologis Islam yakni bentuk antipatinya terhadap nilai-nilai yang digaungkan oleh tradisi Timur yang bercirikan integral, komprehensif, harmonis dan melihat kebenaran dari multiperspektif. Namun yang perlu digarisbawahi dan akui bahwa masih ada sisi positif teori murni Barat yang dapat para sarjana Muslim pelajari guna mengembangkan tradisi intelektual Islam. Bahkan, jika ditinjau dari tercapainya aspek aksiologis, kedua peradaban ini dapat dikomparasikan guna kepentingan penelitian secara proporsional dan berimbang justru setelah ketiadaan relasi superior-interior antara kedua tradisi tersebut. Dalam konteks ke-Indonesiaan, semestinya para cendekiawan dalam menghadapi pelbagai persoalan diselesaikan dengan memadukan teks (teori) dengan tidak mengabaikan konteks (kearifan lokal). Wallahu ‘alam bishshawab

Sabtu, 29 November 2014

Refleksi Pemikiran

Jihad Sastrawan dalam Membangun Peradaban: Sebuah Refleksi Minor Pemikiran Ali Syari’ati


           
            Ketika mengikuti kuliah perkembangan pemikiran Islam, ada satu pemikiran cendekiawan Ali Syari’ati yang menyita perhatian saya, yakni sewaktu  salah satu teman yang bertugas sebagai presentator menjelaskan ihwal bagaimana  metodologi Ali Syari’ati Menentukan Sejarah Hari Esok (Tomorrow’s History).
            Apa yang ada dalam benak jika mendengar kata sejarah? Sebagian besar bisa dipastikan menjawab bahwa memperbincangkan sejarah pasti selalu dikaitkan dengan rentetan peristiwa masa lalu. Walau bagaimana pun, Ali Syari’ati tidak secara paripurna melepaskan konteks masa lalu dalam hubungannya menentukan sejarah hari esok. Menurut perspektifnya, sejarah merupakan sebuah pengulangan pelbagai pola peristiwa. Bukan peristiwa sejarah yang terulang sama persis melainkan nilai-nilainya akan terulang kembali. Maka tak heran, ada ungkapan sejarah bisa saja terulang. Sebagaimana jargon populis Bung Karno “JASMERAH” (Jangan Lupakan Sejarah). Begitu penting bukan pengetahuan dan pemahaman akan sejarah?
            Jika paradigma telah tertata sedemikian rupa bahwa senarai pola sejarah akan terulang di masa depan maka tak begitu sukarbagi kita untuk memprediksi kejadian di masa mendatang melalui pemahaman nilai-nilai inti-universal. Tentu saja kepentingan mengikat diri pada masa silam (baca: mempelajari sejarah) diniatkan agar manusia tidak terperosok pada jebakan-jebakan zaman serupa.
            Guna memudahkan menentukan sejarah hari esok, terlebih dahulu Ali Syari’ati mengklasifikasikan komponen masyarakat dalam andilnya mengkonstruksi peradaban menjadi tiga bagian yang ia gambarkan dalam bentuk kerucut. Kelompok pertama adalah masyarakat awam yang bermassa mayoritas, kelompok kedua ditempati oleh kaum terpelajar seperti sarjana, intelektual, pemikir, dan kelompok yang terakhir-yang menempati posisi teratas dari kedua kelompok sebelumnya- adalah kelompok sastrawan dan filosof yang pemikirannya banyak mendapatkan pertentangan dari kaum intelekual sezamannya. Perhatikan gambar di bawah ini.
Kerangka berpikir Ali Syari'ati

            Satu hal yang menarik bagi saya adalah pandangan kelompok paling minor-sastrawan dan filosof-yang justru cenderung berseberangan dengan kaum pelajar dan bahkan ditentang habis-habisan oleh masyarakat awam. Barangkali karena pandangan penyair, misalnya, kerap dianggap nyeleneh dan non-mainstream, entah memang beda atau sengaja membeda. Intinya, pandangan mereka tetap mendapatkan pertentangan dari pihak khalayak. Kendati faktanya demikian, justru kelompok filsuf dan penyair yang berjumlah minim inilah yang punya andil paling besar dalam membangun sebuah peradaban. Tak dinyana pemikiran filosof dan penyair, entah diam-diam atau terang-terangan diikuti oleh kaum pelajar di zaman berikutnya. Artinya, usai pergantian abad dan meninggalnya para filosof dan sastrawan, baru golongan kedua mengikuti alur pemikiran kaum tertinggi ini di zaman sebelumnya. Pola-pola tersebut akan berlaku di segala zaman, demikian kata Ali Syari’ati.
            Berbicara soal penyair, saya jadi teringat pernyataan KH. Fadlolan ketika memberikan sambutan bedah buku “Maha Cinta” karya Aguk Irawan di Ma’had al-Jami’ah Walisongo beberapa bulan silam, beliau mengatakan bahwa “Sastrawan lebih lihai dan peka dalam membaca dinamika lingkungan ketimbang ilmuwan.” Di awal mendengar pernyataan ini saya berpikir, bagaimana mungkin sastrawan bisa lebih peka daripada ilmuwan?. Semakin ke sini, sembari masih terus merenungkan pernyataan Kyai saya, pada akhirnya saya mengamini pernyataan beliau juga. Penyair lebih intens, jika enggan dikatakan terlalu asyik, membaca keadaan dibandingkan ilmuwan yang notabene-nya sekadar mengamati diskursus dan dinamika keilmuwan, tentu saja terlepas dari konteks ilmuwan yang mampu bersastra.
            Pada zaman Jahilyah  pun, penyair menduduki posisi yang membanggakan dan terhormat ketimbang komponen masyarakat lainnya. Sampai-sampai sastra dikeramatkan oleh kabilah-kabilah Arab meski kata-katanya tak mempunyai arti sama sekali. Pada zaman itu seorang penyair adalah tokoh yang paling ditaati, jauh melebihi agamawan maupun filosof, hingga turunlah al-Qur’an sebagai mu’jizat Nabi Muhammad Saw. sebagai pesaing sastra Jahiliyah. Sekaligus kata Syauqi Dlaif dalam bukunya Fi Ashr al-Adab al-Jahiliyah adalah upaya penghargaan Tuhan kepada para sastrawan. Maka tak heran Nabi Muhammad Saw. juga berpuisi saat perang Khandaq dan sahabat Nabi, Hasan bin Tsabit, selalu membuat semangat Nabi dalam jihad membela hak muslimin dengan kaum kafir. (Aguk Irawan, 2013: 47).
            Jika menilik konteks ke-Indonesiaan, pada zaman orde baru betapa banyak sastrawan dipenjara hanya karena mengkritik pemerintah lewat terciptanya puisi-puisi sosial. Misalnya kematian misterius Wiji Tukul pada pemerintahan Soeharto yang kata salah seorang kawan saya yang lebih mafhum seluk-beluk sejarah. Betapa eksistensi sastrawan begitu memengaruhi stabilitas pemerintah yang tengah berkuasa pada saat itu. Barangkali, para sastrawan pada masa itu mengalami apa yang disebut Ahmad Thohari sebagai “hamil kegelisahan” yang maha dahsyat hingga melahirkan beragam puisi sebagai reaksi nurani menyikapi ketimpangan di sana-sini.
            Hemat saya, pemikiran Ali Syari’ati yang menempatkan penyair pada posisi teratas cukup representatif berkaitan dengan pengaruhnya yang cukup signifikan dalam membangun peradaban yang beradab. Sebagai umat Muslim, cobalah buka al-Qur’an surat ke-26 yaitu surat Assyuara’ yang berarti Para Penyair. Mustahil bukan jika Allah Swt. tak mengapresiasi para penyair sedangkan Dia mengabadikannya menjadi salah satu nama dalam Kitab Suci umat Islam?. Betapa kita telah diperlihatkan sebuah mu’jizat yang benar-bebanr nyata bahwa sejarah Nabi, puisi, dan penyair memiliki andil mayor dalam mengantarkan umat Islam dengan pasukan yang jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan lawan meraih kemenangan. Subhanallah. Selagi mampu membaca ayat kauniyah, disamping ayat qauliyah, mari menerangi peradaban dengan pena (menulis) supaya kita tidak termasuk golongan yang mendustakan nikmat Gusti Allah. Siapa pula yang menciptakan dan merekam sejarah selain makhluk yang satu-satunya diberi kemampuan teristimewa, yaitu manusia itu sendiri, kita. Wallahu a’lam bishshowab.

                                                                        Menikmati malam minggu di ndalem Yai.
                                                                        Semarang, 30 November 2014, 02.00 a.m.

Senin, 13 Oktober 2014



Kami tak memiliki apapun kecuali kasih sayang orang-orang yang mencintai kami dan kasih sayang tak kenal pudar tak akan pernah terputus yang dimiliki satu-satunya entitas kekal, Gusti Allah.

Semarang, 14 Oktober 2014

Selasa, 25 Februari 2014

Sajak Rindu



Rindu Berbatas Aksara

Bukan sesiapa aku tanpa kata
Sebatas aksara ungkapan rindu terucap
Tak kenal alpa khusyuk kurapalkan doa-doa
Agar Tuhan meridhai kata hati, perempuan ini
Hingga kau mampu sadari, membaca isyarat hati
Lalu harapku, kau tafsiri senyapnya rasaku

Wahai lelaki bayangan
Sampai detik ini, yang kumampu hanya memenjarakan rindu dalam diam dan kata
Tanpa kata dalam bait-bait bernyawa
Di sudut manakah aku akan bersembunyi lagi,
bersama rindu keredam sedalam-dalamnya padamu?
Sungguh jarak telah membingkai rinduku berlipat
Kejauhan telah menghembuskan rasa dahaga akan rindu, mencekik raga serta jiwa
Semoga lewat kata,
Jauhmu  mendekat
Pulanglah pada peraduan segera
Karena rasaku pun selalu berpulang pada kejauhan,
Padamu yang telah kutitipkan segenap rasa sukma

Tak luput tanya dalam hati, adakah sama rasa kita?

Semarang, 24 Februari 2014