This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 30 Desember 2013

Lifestyle




Terjebak dalam Gelombang Informasi; Stagnasi Pembudayaan Manusia
Oleh: Nurul Hikmah Sofyan


Abad ke-21 merupakan abad elektronik di mana kebanyakan dari kita telah menjelma menjadi manusia informasi. Kemanapun kita pergi, gadget selalu tak pernah absen dari genggaman, mulai dari telepon genggam, komputer jinjing, tablet PC serta perangkat-perangkat elektronik lainnya yang merupakan bagian dari produk teknologi berbasis komponen-komponen mutakhir masa kini. Menurut Alfathri Adlin dalam buku “Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia”, menyebutkan bahwa “Pencapaian teknologi sebagaimana yang ada saat ini sebenarnya telah menjalani suatu evolusi yang sangat panjang. Teknologi merupakan akumulasi dari pembelajaran manusia pada masa sebelumnya yang terus dicoba untuk disempurnakan. Perkembangan percepatan teknologi tersebut secara umum dibagi ke dalam beberapa fase yaitu, fase penggunaan otot (  1.000.000 tahun yang lalu, serta menghasilkan alat bantu berupa batu, palu, tombak, busur, dan lain-lain); fase penggunaan binatang, budak, air, angin (  3000 SM hingga 1700 M, serta menghasilkan alat pembajak, gerobak, kincir, perahu layar, huruf dan percetakan); fase penggunaan uap, pembakaran, listrik, atau Revolusi Industri (  1700 M hingga 1940 M, serta menghasilkan listrik, mesin uap atau bakar, pesawat terbang, foto, dan film); fase penggunaan nuklir, elektronik, matahari (  1940-an M hingga 2000 M, serta menghasilkan pesawat ruang angkasa, televisi, nuklir, komputer); fase teknologi informasi yang diperkirakan akan semakin berkembang pada abad ke-21 (misalnya tampak pada gejala cyberspace yang dengan sangat cepat mengimbas kepada berbagai aspek kehidupan manusia lainnya).
Terjebak Gelombang Informasi
Dalam pada itu, Alfin Toffler, sebagaimana yang dikemukakan oleh Jalaluddin Rahmat, masyarakat terbagi menjadi tiga bagian yakni masyarakat pertanian (agricultural society), masyarakat industri (industrial society), masyarakat informasi (informatics  society). Saat ini, kita memasuki masa yang disebut oleh futurolog Amerika ini sebagai masa masyarakat informasi. Tentu saja suguhan banyaknya informasi akan membuat pola hidup manusia juga kian berubah. Telah terjadi budaya baru yang disebut Toffler industriality. Dalam budaya yang baru, yang memerintah bukan raja atau kepala suku, tetapi teknologi, mengatur hidup dan mati manusia, sejak makan, minum, sampai sehat dan sekarat. Disadari atau tidak hidup kita tengah diperbudak oleh benda.
Terjebaknya manusia dalam gelombang informasi, menjadi hambatan tersendiri pembudayaan manusia. Maksud dari pembudayaan dalam konteks ini adalah proses, perbuatan, dan cara memajukan manusia melalui teknologi. Nomina pembudayaan memiliki makna inheren ‘lebih aktif’ dan dinamis daripada nomina kebudayaan, yang memiliki makna keadaan ‘apa adanya’ dan terdengar kurang dinamis (Alwasilah: 2010). Terjadinya stagnasi pembudayaan manusia di sini lebih inheren ketika teknologi berada di tangan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap. Penggunaan iptek modern yang demikian masih lebih banyak dikendalikan oleh orang-orang yang secara moral kurang dapat dipertanggungjawabkan. Sikap hidup yang mengutamakan materi (materialistik), memperturutkan kesenangan dan kelezatan syahwat (hedonistik), ingin menguasai aspek kehidupan (totaliteristik), hanya percaya pada rumus-rumus pengetahuan empiris saja, serta paham hidup positivistis yang bertumpu pada kemampuan akal pikiran manusia tampak lebih menguasai manusia yang memegang ilmu pengetahuan dan teknologi (Nata: 2012). Intinya, sisi manfaat teknologi tergantung pada  pelaku yang memegangnya.
Sisi Ambiguitas Teknologi
Menurut M. Abdullah Badri dalam bukunya yang bertajuk “Kritik Tanpa Solusi “, menyebutkan bahwa teknologi mempunyai semacam ambiguitas. Satu sisi, teknologi mempermudah mobilisasi manusia. Di sisi lain, teknologi mencerabut subjektivitas manusia sebagai unit kebudayaan utuh yang membentuk nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi dalam antropologi jelas tidak dapat dipisahkan dari secara dikotomis dari humanitas. Argumen ini didukung oleh apa yang dikemukakan oleh sosiolog Perancis, Jacques Ellul, yang mengatakan bahwa kemajuan teknologi akan memberi pengaruh sebagai berikut: pertama, semua kemajuan teknologi menuntut pengorbanan, yakni dari satu sisi teknologi memberi nilai tambah, tapi di sisi lain dapat mengurangi, kedua, efek negatif teknologi tidak dapat dipisahkan dari efek positifnya. Teknologi tidak pernah netral. Efek negatif dan positif terjadi serentak dan tidak dapat dipisahkan, ketiga, semua kemajuan teknologi lebih banyak menimbulkan masalah ketimbang memecahkannya.”
Menurut Jalaluddin Rahmat, teknologi informasi dapat mempengaruhi kita lewat dua cara: kehadirannya (physical presence) dan isinya (content). Kehadiran produk-produk teknologi canggih bukan hanya meningkatkan status sosial, tetapi juga membentuk jaringan interaksi sosial yang baru. Satu kekhawatiran Jalaluddin Rhamat adalah efek kehadiran teknologi di kalangan pemuda yang menggunakan teknologi sebagai ajang rekreasi dan bukan edukasi. Kegiatan-kegiatan produktif seperti belajar, sosialisasi, pendalaman nilai-nilai tradisional yang luhur akan dialihkan menjadi kegiatan penggunaan teknologi informasi yang rekreatif.
Menerima tanpa Mengolah
Dampak negatif dari kecanduan teknologi ini diperparah dengan penerimaan informasi dari cyberspace tanpa tindakan pengolahan data. Seolah-olah tindak tanduk kita justru didekte oleh sampah-sampah informasi dunia maya. Pandangan umum bahwa semakin banyak manusia memiliki informasi maka semakin tinggi pula status sosialnya , membuat masyarakat berlomba-lomba mencari harta karun informasi hingga tanpa sadar menimbunnya di dalam otak tanpa filter yang proaktif sehingga menyebabkan informasi itu hanya mandek pada tataran mengetahui tanpa menganalisis. Walhasil, informasi-informasi yang tersimpan dalam pikiran itu menumpuk lalu membusuk, menghilang seiring kehadiran informasi yang datang kemudian.
Potret semacam ini justru mendistorsi hakikat teknologi yang pada niat awalnya diciptakan sebagai sarana memudahkan kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Benar jikalau dilihat dari tatanan praktis, kita terkesan dimudahkan dan dibuat nyaman dengan tersedianya gudang informasi yang diunggah melalui teknologi canggih, akan tetapi disadari atau tidak hal ini justru membuat hidup kita tidak nyaman karena stagnasi kehidupan, seolah-olah manusia nyaman di zona nyaman yang sebenarnya malah membunuhnya nyawa hidup itu sendiri. Singkatnya, hari demi hari hidup jauh dari perubahan yang berarti. Kita akan disibukkan berinteraksi dengan benda mati daripada bertatap muka dengan orang-orang di dunia nyata. Manusia akan mengalami keadaan gagap interaksi sosial, di mana gaya hidup cenderung menjadi individualis.
Kediaman masyarakat kita tanpa memilah informasi ini menunjukkan lemahnya daya kritis di kalangan kita. Memang tak sepenuhnya salah ketika mengambil informasi dari dunia maya, tapi alangkah lebih baiknya informasi dalam bentuk cyber itu tak ditelan mentah-mentah. Intinya, jangan terlalu berkiblat padanya.
Sebagaiman yang diungkapkan oleh Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA dalam buku “Akhlak Tasawuf”, sikap bijak yang semestinya diambil oleh umat Islam dalam menghadapi zaman millenium ini adalah dengan mengambil sikap pertengahan, yakni suatu sikap yang di satu sisi menerima dan memanfaatkan kemajuan iptek, sedangkan pada sisi lain kita berusaha menjaga agar iptek tidak disalahgunakan. Hal ini dimaksudkan agar sisi keberkahan teknologi dapat memberikan dampak positif guna pembudayaan manusia dalam mobilitas horizontal maupun vertikal, bukan justru terjebak pada kungkungan benda mati yang menghalangi diri untuk menjadi manusia yang berbudaya. Wallahu a’lam. (The Winner of Writing Contest on The 8th Anniversary of  of FUPK 2013 IAIN Walisongo Semarang)



Minggu, 17 November 2013

Sajak Kerinduan




"Kawan, Kabarkanlah padaku"

Kawan, kabarkanlah padaku keadaanmu
Kesehatanmu, kabar studimu, di belahan bumi mana kini kau berada
Sungguh, diri ini merindu, sebagaimana kita pernah hidup seatap, satu asrama, di pingggiran kota Surakarta, Bonoloyo
Aku merindumu sebagai sahabat, sebagaimana kita pernah menjelma menjadi semi santri, senasib seperjuangan
Sama-sama belajar sampai larut malam,
Lalu esok hari, kita takut menghadapi hari-hari ujian tutorial yang materinya masih sulit kita pahami
Kita yang berbarengan harap-harap cemas bercampur khawatir ketika masuk kelas Nahwu-Shorof,
Apalagi ketika malam kajian kitab, kita selalu mengendap-endap berangkat paling akhir untuk duduk di barisan paling belakang lantaran takut ditunjuk ustadz untuk membaca kitab gundul.
Ah, ini hanya rekaanku saja akan perasaan kita yang kurang lebih sama, karena kita sama-sama maniak bahasa Inggris, tak paham bahasa Arab secara utuh
Maaf jikalau tuturku terlalu hiperbolik.
Lagi, kulontarkan maaf jikalau aku pernah mendiamkanmu
Meninggalkanmu sendiri di saat-saat kau paling membutuhkan seorang teman di sisimu
Maaf, jikalau aku tak bisa menjaga hari-harimu
Kawan, ijinkan aku menagisimu, menangis karena aku benar-benar merindukanmu.
Kabar bahagiamu, bahagia bagiku, pasti.
Sedihmu, sedihku.
Entah kau membaca sajak kerinduan ini atau tidak,
Satu pintaku,
Aku, seutas tali dari simpul persahabatan Qyzkaiwa El-Faza, akan senantiasa menunggu kabar hangat darimu, selalu.
Salam rindu.

Semarang, 17 November 2013
Pemulung Kata

Sabtu, 16 November 2013

Kata Hati




"Baju Kusutmu"
Urusan pribadimu tampak berantakan,
Aku mengerti, kau masih sendiri.
Sepersekian detik pernah terbesit dalam pikiran
Ingin rasanya menyetrika bajumu yang kusut itu
Tapi apa daya, aku bukan siapa-siapa.
Dan siapamu bukan aku,
Lagipula aku juga tak mau.

Semarang, 15 November 2013
Pemulung Kata

Kata Hati



"Riwayat Dua Pasang Sepatu"

Sepatu kita sama-sama mulai berubah warna. kusam
Keduanya sama-sama berusia renta dan perlu istirahat
Waktunya pensiun, tak muda lagi
Dua pasang sepatu di sebuah sudut rak hunian
Sepatu yang dulu sama-sama kita manjakan
Dicuci bersih, sesekali hanya disemir lantaran terburu-buru berangkat mengais ilmu
Sepatu yang sama-sama made in Indonesia
*Flasback
Dua pasang sepatu yang kini duduk sejajar di rak kayu yang mulai dimakan rayap itu
Memiliki satu perbedaan yang berarti, riwayat perjalanan hidup
Jika sepatumu sudah puas kau ajak melanglang buana ke negeri orang
Mulai dari Negeri Anak Benua, Negeri Tanah Hitam, Negeri 1001 Malam, Negeri Seribu Pagoda, Negeri Tirai Bambu, Negeri Kincir Angin sampai Negeri Matahari Terbit telah kau singgahi, entahlah berapa negara, tak terhitung oleh 20 jari tangan dan kakiku
Lain lagi kisah sepatuku, hanya sebatas menikmati Negeri Jamrud Katulistiwa
Parahnya, hanya berkutat di tanah Jawa.
Namun, kini aku bahagia
Sepatu kita sekarang bersatu.
Asyik menikmati sisa-sisa hari tua
Bercakap-cakap ringan hingga bernostalgia masa-masa muda
Sering kali aku memergoki mereka bertanya,
Akankah majikan akan melemparkan kita ke tempat peristirahatan terakhir barang-barang bekas?
Jawabku dalam hati, biarlah waktu yang menjawab.

Semarang, 12 November 2013
Pemulung Kata

Suara Hati



 
Diskriminasi Gender pada Pelajaran Penjaskes

Masih ingat pelajaran Penjaskes di jenjang SD, SMP, atau SMA?
Seusai memelototi koran yang lumayan kadaluwarsa, kira-kira terbit 5 hari yang lalu, ting!, akhirnya saya dapat ilham, pencerahan untuk menulis, mengisi blog pribadi saya yang cukup lama ‘mati suri’.
Kebetulan, mata ini tertarik pada halaman koran berbau bola. Cukup menguras pikiran juga ketika kedua mata ini sibuk membaca baris demi baris kegemaran laki-laki ini. Banyak istilah-istilah bola yang asing di kepala, hingga tak jarang pemahaman saya akan berita yang disajikan parsial. Beberapa kali saya membaca berita sepak bola sebanyak itu pula saya sulit untuk mengingat nama-nama pemain sepak bola, mentok pemain persepakbolaan yang saya tahu sebatas Lionel Messi, Neymar Junior, Wayne Rooney, entahlah mereka dari klub apa saya tak tahu-menahu.
Kadang kala, saya sampai terheran-heran ketika pertandingan bola berlangsung, bukan saja di stasiun televisi, di akun sosial media pun demam bola menyeruak di hati pemirsa, khususnya laki-laki. Barangkali kebiasaan yang satu ini juga sulit saya pahami, menonton bola sampai larut malam, sampai pagi pula. Lingkaran lawan jenis inilah yang sampai saat ini sulit saya pahami. Jikalau saya analogikan, ketidakpahaman saya akan kebiasaan lawan jenis ini sama seperti sulitnya laki-laki memahami mengapa perempuan selalu menghabiskan waktu berlama-lama untuk berbelanja, berputar-putar mengelilingi hampir seantero mall, betah berlama-lama menimbang harga produk satu dengan produk yang lain, padahal harga cuma beda tipis.
Tampaknya pembahasan kali ini mulai melenceng dari pertanyaan awal. Kembali ke jalan yang benar, mari! Setelah merenung sejenak, pikiran saya pergi menjelajah masa lalu, menembus ruang waktu, menghampiri masa-masa sephia putih abu-abu, dan sampailah pada suasana ujian ketika para siswi mengerjakan soal Penjaskes, termasuk di dalamnya saya sebagai lakon utama,, he,,he,,. Jujur, ada semacam kekhawatiran kecil dalam benak saya ketika menghadapi soal-soal seputar olahraga, khususnya yang menyangkut olahraga sepakbola, volli, tenis meja, basket., mulai dari tendangan bebas, gaya mendrible, ukuran lapangan, pokoknya itulah.
Penegasan: tulisan ini lahir dari sudut pandang pribadi saya sebagai perempuan, jadi tulisan ini benar-benar sangat subjektif.  Secara personal, saya merasa ada semacam, kalau boleh dikata dengan bahasa kasar, semacam diskriminasi perempuan pada soal Penjaskes, kami yang tak akrab dan jarang berkecimpung di dunia olahraga yang didominasi dan dikuasai laki-laki, justru malah dituntut untuk mengerjakan soal-soal yang membuat kepala pusing tujuh keliling. Okelah, sehari sebelum atau paling tidak malam harinya kami sudah mempersiapkan semua materi, menghafalkan taktik dan strategi bermain bola hingga aturan-aturan permainan yang jarang kami aplikasikan, sungguh menghapal sesuatu yang jarang atau bahkan tak sekalipun kita praktekkan dalam rutinitas sehari-hari membutuhkan daya memeras otak yang lebih dibanding laki-laki yang memiliki kecenderungan menyukai dan mahir dalam berolahraga. Penyamarataan yang tak proporsional. Semestinya, soal Penjaskes antara siswa dan siswi dibedakan, tentu hal ini tergatung bagaimana kepekaan guru mapel mengemas Pelajaran Penjaskes agar tak menjadi momok bagi para siswi.
Oke, saya tegaskan kembali, tulisan ini adalah bagian dari suara hati  yang terdalam, berkisah tentang kegelisahan masa putih abu-abu yang baru kali ini berani saya ungkapkan. At least but not last, saya tetap mengapresiasi penuh atas pengadaan pelajaran Penjaskes agar badan tetap bugar dan kebutuhan jasmani kami terpenuhi. Sempat terlintas dalam pikiran, pelajaran Penjaskes diganti menjadi pelajaran tata boga atau materi pengembangan diri: seperti kursus menjahit, merajut, membuat kue, menghias baju dengan mote, dan lain-lain. Asyik deh kayaknya. J

Kota Lumpia, 17 November 2013
Kata Hati seorang perempuan.
Nurul Hikmah Sofyan